Achie

Archive for the ‘Fictions’ Category

Karya Wong Kar Wai

In Fictions, Film on Agustus 16, 2009 at 5:32 pm

in-the-mood-for-lovein_the_mood_for_love1ChungkingExpress

Wong Kar Wai adalah sutradara film terkenal dari Hongkong. Karyanya mungkin tidak terlalu dikenal secara komersil namun banyak diminati oleh peminat film independen dan kerap mendapat comment positif dari para kritikus film. Pertama kali saya mengenal karyanya ketika duduk dibangku kuliah, kala itu kelas film yang saya ambil mengadakan screening Chungking Express.

Dalam dunia film-making, Wong Kar Wai layak mendapat predikat auteur, yaitu istilah yang diberikan kepada para sutradara film yang dianggap memiliki ciri khas konsisten dan ‘beda’ dalam film-film mereka. Alfred Hitchcock adalah salah satu sutradara terkenal yang juga menyandang predikat ini.

Ciri khas yang dimiliki Wong Kar Wai terletak pada storyline yang tidak konservatif, tone visual yang hangat namun gelap dan menyiratkan kesenduan, serta presentasi yang ‘nyeni’ dan nostalgic. Para pecinta seni visual pasti akan menikmati shot, angle dan lighting ciri khas Wong Kar Wai.

Banyak pengamat film dalam negeri Hongkong maupun asing yang mendeskripsikan karya Wong Kar Wai sebagai: masterpiece, piece of art, dan elegant. Beberapa review-nya dapat Anda googling di web.

Gabungan visual yang nyeni dan musik latar yang juga nostalgic (kebanyakan musik Jazz) membuat adegan yang disyuting Wong Kar Wai terasa atmospheric. If it’s a romantic film, wong kar would create elegant pieces, if it’s full of conflicts, he would create chaotic visuals, which sometimes ignore the fundamental rule of film-making. The man really got taste.

Berikut filmography Wong Kar Wai, siapa tahu Anda tertarik dan akhirnya menjadi salut kepadanya, seperti saya;

Film:

  • 1988 As Tears Go By
  • 1991 Days of Being Wild
  • 1994 Chungking Express
  • 1994 Ashes of Time
  • 1995 Fallen Angels
  • 1997 Happy Together
  • 2000 In the Mood for Love
  • 2004 2046
  • 2007 My Blueberry Nights
  • 2008 Ashes of Time Redux
  • 2009 The Lady from Shanghai

Film Pendek:

  • 1996 wkw/tk/1996@7’55″hk.net
  • 2000 Hua Yang De Nian Hua
  • 2001 The Hire: The Follow
  • 2002 Six Days
  • 2004 Eros
  • 2007 Chacun son cinĂ©ma
  • 2007 There’s Only One Sun
Iklan

Coffee Prince

In Fictions, Film on Agustus 16, 2009 at 4:40 pm

Coffee Prince

Coffee Prince adalah film drama seri korea yang masih mengusung tema umum yaitu: love story. Masih juga mengandalkan komedi dari dinamika pasangan konyol yang biasa ada di kebanyakan film drama Korea. Namun, yang membuat seri ini berbeda, adalah plot dan karakternya yang terasa real.

Ada dua plot utama dalam film ini, yang masing-masing dilakoni oleh sepasang pria dan wanita yang terlibat dalam masalah percintaan. Pemeran utama adalah seorang wanita bernama Go Eun Chan, berpasangan dengan Choi Han Kyul. Sedangkan plot kedua dilakoni oleh pemain pendukung, Choi Han Sung berpasangan dengan Han Yoo Joo. Kedua plot ini menggambarkan dua percintaan yang berbeda, pasangan pertama menjalani percintaan mereka seperti remaja; tampak selalu kasmaran dan konyol, sering ngambek, dan terkadang sangat ekspresif seperti sedang mengalami gejala excessive happiness. Sebaliknya, pasangan kedua, Choi Han Sung dan Han Yoo Joo terlihat sangat dewasa dalam menjalani hubungan mereka yang sedang mengalami konflik serius. Mereka berdua layaknya pasangan dewasa dalam dunia nyata yang sudah melewati masa-masa puber dalam berpacaran.

Kedua plot inilah yang membuat saya betah mengikuti drama seri (biasanya saya jarang nonton drama seri korea), karena perbandingan antara keduanya membuat saya terhibur namun juga merasa connect dengan jalan cerita dan karakternya. Perilaku Go Eun Chan dan Choi Han Kyul membuat saya terbahak-bahak bahkan terkadang membuat saya gemas sekali dengan mereka (khas joke Korea). Sedangkan, kisah Choi Han Sung dan Han Yoo Joo terasa sangat alami, hingga saya bisa membayangkan karakter mereka ada dalam kehidupan yang sebenarnya. Bisa dibilang, kedua plot ini membuat storyline dalam film seimbang, tidak terlalu konyol dan berlebihan seperti komedi romantis korea, namun juga tidak terlalu serius seperti film drama korea yang plotnya berjalan lambat, pas!

Akting pemeran utama, Go Eun Chan (Yoon Eun Hye) dan Choi Han Kyul (Gong Yoo) sangat menarik dan terlihat total. Mereka sangat fasih memainkan detil-detil konyol dan simpatik dalam berpacaran, membuat penonton wanita senyum-senyum sendiri. Bahkan kabarnya Yoo Eun Hye meraih penghargaan atas perannya di drama seri ini. Selain itu, akting pasangan kedua juga tidak kalah menarik. Selain plot yang menghibur, penggambaran karakter yang baik juga merupakan keunggulan Coffee Prince.

Kesimpulan saya, Coffee Prince adalah salah satu drama seri Korea yang menarik untuk ditonton, sekalipun bagi orang yang menganggap drama korea terlalu lebay. Buktinya, Coffee Prince berhasil mengambil simpati seorang teman saya yang dulunya menghujat segala jenis drama seri korea bertemakan komedi romantis. Bahkan hingga kini Ia masih sering menonton ulang adegan favoritnya.

Twilight (the movie)

In Fictions, Film on Januari 28, 2009 at 5:19 pm

78338_kristen-stewart-and-robert-pattinson-in-the-forest-in-twilightAkhirnya kesampaian juga nonton Twilight. Begitu dapat kabar kalau filmnya sudah turun ke jam biasa, saya langsung pergi ke 21 Cineplex dan membeli tiketnya. Niat sekali memang, karena saya penasaran melihat seperti apa cerita dan tokoh-tokoh Twilight divisualisasikan ke dalam layar sinema.

Menurut berita online, Twilight berhasil meraih BOX OFFICE pada minggu pertama pemutarannya di Amerika, setara dengan Quantum of Solace. Hal ini cukup menarik karena Twilight yang tergolong kategori film chick flick mampu sejajar dengan film sekelas James Bond.

Secara keseluruhan filmnya ok saja. Saya sedikit kecewa dengan storyline yang kurang mengalir dan editing yang tidak smooth. Karena kedua hal inilah, film ini terasa kurang gregetnya. Meskipun begitu saya mengerti tidaklah mudah memuaskan imajinasi para fans Twilight yang sangat banyak jumlahnya.

Dalam jalan ceritanya, tahap perkembangan hubungan Bella dan Edward tidak tergambar dengan jelas, tahu-tahu mereka sudah semakin dekat dan saling menyatakan perasaan satu sama lain. Padahal, tahap inilah yang membuat Twilight spesial dan menyenangkan untuk disimak. Tahap ini juga yang membuat saya dan fans lainnya mesem-mesem sendiri dan membaca berulang-ulang halaman yang telah lewat.

Pastilah sulit untuk merangkum Twilight dalam balutan film berdurasi 2 jam lebih. Hal ini terlihat dari kesinambungan antara beberapa adegan yang kurang rapih. Selain itu, sewaktu menonton, saya merasa seperti diburu waktu agar ceritanya cepat selesai, padahal ingin sejenak relaks dan menikmati karakter serta dialog mereka.

Dari segi karakter, saya merasa peran Ayah Bella termasuk salah satu yang menarik perhatian. Padahal di bukunya, beliau hanya berfungsi sebagai pelengkap saja. Lalu Victoria juga cukup dominan, meskipun Ia hanya muncul sesekali. Secara keseluruhan, akting pemeran lainnya cukup. Mudah-mudahan di film berikutnya mereka bisa membawakan karakter masing-masing lebih luwes lagi.

Ada satu kesalahan yang saya sempat perhatikan, yaitu kurang rapihnya make-up Esme sewaktu Ia pertama kali bertemu dengan Bella. Terlihat di bagian atas dahinya ada bagian yang tidak tertutupi foundation putih sehingga kelihatan belang.

Saya sempat mentertawakan beberapa adegan romantis Bella & Edward, karena dilengkapi dengan efek editing dan background music yang agak terlalu lebay. Ada bagian dimana Bella memimpikan Edward mengigitnya di suatu ruangan bersetting victoria lengkap dengan pakaian bergaya sama hi3x agak berlebihan saya rasa.

Selain beberapa kelemahan diatas, saya memuji keputusan sutradaranya yang menyediakan banyak close-up muka Edward. Banyaknya close-ups shots tersebut membuat para penonton wanita di dalam bioskop mesem-mesem, teriak-teriak, dan heboh sendiri, ha3x. Mungkin karena sutradaranya wanita, dia tahu betul apa yang fans mau…yaitu Edward Cullen!

Anyway, saya tidak menyesal nonton Twilight karena visualisasi sinema tidak dapat dibandingkan dengan imajinasi pribadi. Sehingga kelemahan-kelemahannya bersifat maklum saja. Yang penting sekarang saya sudah tidak penasaran lagi 🙂 Long live Edward! Ha3x

(written on December 2nd 2008 )

Drupadi

In Fictions, Film on Januari 28, 2009 at 5:16 pm

drupadi1Kisah Drupadi (atau Draupadi dalam bahasa sansekerta) memiliki dua versi. Dalam kitab Mahabrata, disebutkan Drupadi merupakan istri dari pandawa lima, yaitu: Yudistira, Arjuna, Bima, Nakula dan Sadewa. Sedangkan dalam tradisi pewayangan Jawa, Ia diceritakan hanya bersuamikan Yudistira. Kali ini dalam film Drupadi, Riri Riza memilih versi kitab Mahabrata untuk menceritakan kemalangan yang menimpa putri Panchali yang cantik dan berhati luhur.

Film yang berdurasi 45 menit ini dibintangi oleh: Dian Sastrowardoyo (Drupadi), Dwi Sasono (Yudistira), Nicholas Saputra (Arjuna), Ario Bayu (Bima), Butet Kartaredjasa (Patih Sengkuni), dll. Singkatnya durasi film ini mengambil inti cerita dari momen dimana Drupadi dijadikan bahan taruhan dalam permainan dadu antara Yudistira dan Dursasana yang berakhir dengan aksi pelecehan terhadap dirinya.

Awalnya saya tidak begitu terkesan, namun seiring dengan meningkatnya konflik dalam cerita, saya mulai bisa menikmati esensi dari film ini. Keseluruhan plot hanya memaparkan sequence dari kejadian-kejadian penting yaitu, ( 1 )momen dimana Arjuna berhasil memenangkan kompetisi memanah dan mendapatkan Drupadi sebagai hadiahnya, ( 2 ) potongan adegan singkat mengenai jenis cinta yang dirasakan Drupadi terhadap kelima suaminya, ( 3 ) permainan dadu yang berakhir tragis, hingga closing-nya berupa ( 4 ) pemberontakan pandawa dan Drupadi terhadap kerajaan Kurawa. Jeda diantara sequence ini diisi oleh judul yang mewakili tiap peristiwa penting tadi.

Strategi pembagian sequence yang seperti membagi bab-bab dalam buku ini saya rasa efektif karena jalan ceritanya mejadi fokus dan tidak bertele-tele.
Akting Dian Sastrowardoyo sangat kurang, sayang sekali karena Ia memainkan peran utama dalam film ini. sedangka Butet Kertaredjasa selalu memukau seperti biasanya.

Selain segi akting, wardrobe dan make-up juga menarik untuk disimak. Banyak dari gaun Drupadi memakai kain prada bali digabung dengan batik Jawa serta kain Sumatera. Walaupun mungkin tidak realistis dengan sejarah, namun disainnya bagus dan terkesan pas-pas saja. Selain itu, ketika melihat make-up dan gaya rambut Drupadi, sekilas saya seperti melihat kemiripan dengan konsep make-up dan gaya rambut Queen Amidala di Star Wars.

Secara keseluruhan film ini menarik dan wajib ditonton bagi Anda yang ingin menyaksikan sebuah karya seni yang diangkat dari lengenda dan menggambarkan secara implisit konflik yang timbul di zaman sekarang.

Revolutionary Road

In Fictions, Film on Januari 28, 2009 at 4:20 pm
Revolutionary RoadRevolutionary Road termasuk salah satu film unggulan dalam ajang Golden Globe yang baru diadakan tanggal 11 Januari kemarin. Total dinominasikan untuk 18 kategori dan mendapatkan satu penghargaan, yaitu Best performance female Actress yang diperoleh Kate Winslet.

Nama film ini diambil dari nama jalan tempat tempat pasangan muda Frank (Leonardo di Caprio) dan April (Kate Winslet) tinggal. Tempat yang menjadi saksi kehidupan rumah tangga mereka.

Pasangan Frank dan April dikagumi banyak orang, mereka muda, serasi, keren, dan tampak rukun. Namun sebenarnya, mereka labil dan kesulitan mencari jati diri masing-masing. Hal inilah yang membawa masalah dalam rumah tangga mereka. Frank yang masih terus mencari hal yang paling diinginkan dalam hidupnya, menahan diri untuk tetap bekerja di kantor demi keluarga. Sedangkan karir April dalam teater merosot karena aktingnya yang buruk. Dihadapi oleh kenyataan seperti ini, April tidak mampu mengembalikan moodnya dalam menjalani hidup, padahal Ia harus tampil senantiasa kuat demi anak-anaknya.

Tiba-tiba April mendapat ide agar seluruh keluarga pindah ke Paris, negara yang selalu dicintai Frank. April berinisiatif untuk mencari pekerjaan sebagai sekretaris atase luar negeri di sana, yang dia yakini mendapat bayaran yang sangat besar. Sehingga cukup hanya dia yang bekerja untuk menghidupi keluarga, sementara Frank memiliki waktu tenang untuk mencari pekerjaan yang paling diinginkannya. Awalnya Frank berpikir ini ide gila, namun akhirnya Ia setuju. Dan sejak saat itu mereka berubah menjadi lebih optimis dan gembira, membayangkan nikmatnya hidup di kota yang penuh kehidupan seperti Paris. Namun ternyata rencana ini harus dibatalkan karena tiba-tiba April mengandung.

Disinilah inti konflik film ini mulai berjalan. Frank & April yang tadinya sudah terbuai dalam mimpi nikmatnya tinggal di Paris, harus kembali pada realita dimana mereka harus tetap tinggal di Revolutionary Road demi bayi yang akan lahir. Frank siap dengan nasib ini, namun tidak demikian dengan April…

Yang istimewa dari film ini adalah akting Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet. Mereka berdua mampu membuat karakter rekaan menjadi sangat real dan manusiawi. Saya seringkali merasa bahwa karakter mereka adalah nyata ketika menonton. Selain itu, mereka juga sangat lihai memainkan emosi dan perasaan penonton. Total Drama! Tidak heran mereka berdua dinominasikan sebagai aktor dan aktris terbaik dalam Golden Globe kemarin.

Bila ingin mencari hiburan, jangan menonton film ini karena film ini tidak menghibur namun memberikan pesan moral dan pelajaran dalam hidup, terutama kehidupan rumah tangga pasangan muda. Oleh karena itu saya yakin banyak orang akan merasa bosan ketika menonton Revolutionary Road. Sebaliknya, bila Anda lebih tertarik kepada akting daripada aksi, Anda wajib menonton film ini. I gave 4 stars for Leo & kate’s performances.

Atonement

In Fictions, Film on Januari 28, 2009 at 4:19 pm

atonementFilm drama romantis zaman perang pada umumnya diawali atau diakhiri oleh kisah tragis. Begitu juga dengan Atonement.

Cecilia (Keira Knightley dan Robbie (James Mc Avoy) adalah sepasang remaja yang saling mencintai. Walaupun hubungan mereka diwarnai oleh perbedaan status, namun bukan hal ini yang memisahkan mereka. Sebuah fitnah yang dilayangkan adik Cecilia (Brioni) pada Robbie membuatnya harus memilih antara penjara atau wamil. Kedua pilihan tersebut mau tidak mau membuat dirinya harus berpisah dengan Cecilia. Cecilia tidak diizinkan bertemu dengan Robbie, hingga akhirnya Cecilia nekat dan mereka berdua sempat bertemu di sebuah restoran. Namun pertemuan tersebut terpaksa dibuat singkat karena Robbie harus kembali berperang dan Cecilie belajar di akademi perawat.

Kisah ini diadaptasi dari sebuah novel karya Ian McEwan. Atonement berhasil masuk ke dalam banyak nominasi OSCAR tahun 2008, namun hanya memenangkan satu, yaitu kategori Best Original Scoring.

Keunggulan film ini adalah storyline yang rapih, mengalir, dan sangat menyentuh. Sangat nyaman mengikuti plot demi plot dalam film ini. Walaupun narasinya memvisualisasikan cerita dari sudut pandang yang berpindah-pindah (berbeda-beda), namun surprisingly ceritanya sangat mudah dimengerti.

Di dalam film ini, penonton diperlihatkan sudut pandang dari 2 titik, yaitu fakta (outside Brioni’s mind and thoughts) dan sudut pandang si kecil Brioni (inside her mind and thoughs). Sehingga seiring berjalannya cerita, kita dapat menyadari bahwa poros utama adalah kebohongan Brioni yang sudah menyeret hubungan kakaknya dalam perpisahan.

This movie is beautiful! Ceritanya sangat sedih namun tidak membuat saya cepat bosan. Naskahnya sukses membawa penonton terlibat dalam kisah Cecilia dan Robby. Ketika menonton Atonement, terasa reaksi yang serupa ketika saya menonton English patient; sedih, kagum dan deeply engaged.

Yang paling saya sukai dalam film ini adalah konflik-konfliknya yang terasa nyata. Ceritanya tidak berlebih-lebihan, namun dapat membuat penonton sangat terlibat dalam cerita. Selain itu, akting Kiera, James dan Brioni juga bagus.

Akankah di tahun 2009 ini menghasilkan film drama romantis zaman perang sebaik atau lebih dari Atonement? Semoga saja…

The Fall

In Fictions, Film on Januari 26, 2009 at 6:33 pm

the-fall-2Bagaimana kalau tiga sutradara video klip dan film bergabung dalam satu proyek idealis? Hasilnya adalah The Fall, sebuah film yang disutradarai oleh Tarsem Singh (VC. R.E.M – My religion, Mov. The Cell), diproduksi oleh David Fincher (Mov. Seven, Fight Club) dan Spike Jonze (Mov. Being John Malkovich, Adaptation, VC. Daft Punk, Bjork, dll).

Sang sutradara membiayai sendiri film berdana jutaan dolar ini. Empat tahun pembuatan, lusinan lokasi syuting di berbagai negara, termasuk Praha, Fiji, India, Afrika Selatan dan Bali, tentu terbayang betapa ngototnya Tarsem akan proyeknya yang satu ini. Namun menurut saya, usahanya tidak sia-sia.

The Fall memanjakan pencinta seni dengan komposisi yang tidak biasa, permainan warna yang berani, serta lusinan pemandangan alam yang memukau. Ketiga elemen tersebut yang membuat The Fall layak untuk ditonton.

Film ini adalah tentang imajinasi, tepatnya visualisasi dari imajinasi Alexandria (Catinca Untaru), gadis kecil yang menjalin persahabatan dengan Roy (Lee Pace), seorang stuntman yang sedang putus asa karena cinta. Roy yang tidak berdaya terbaring di rumah sakit memanfaatkan kepolosan Alexandria untuk menjalankan rencana bunuh dirinya. Si gadis kecil menurut saja karena disuplai kisah epik karangan Roy.

Sepanjang film, narasi berpindah-pindah; dari keadaan nyata dimana Roy dan Alexandria menjadi tokoh utama, pindah kepada visualisasi dari kisah epik yang diceritakan Roy. Ketika dongeng dimulai, adegan langsung bertransisi pada dunia imajinasi. Ketika ceritanya terhenti, penonton dibawa kembali ke alam nyata. Ada kalanya Alexandria dan Roy berbeda pendapat akan bagaimana cerita seharusnya berjalan. Pada saat ini terjadi, jalan cerita dan karakter dalam imajinasi langsung berubah mengikuti pendapat siapa yang disetujui.

Visual yang dipersembahkan jauh dari biasa. Tarsem banyak menyuguhkan Extreme Long Shot dan Long shot untuk menunjukkan keindahan alam yang menjadi setting-nya. Jadi jangan heran bila Anda sering menemukan komposisi dimana karakternya hanya sebesar semut sehingga seperti didominasi oleh kemegahan setting. Umumnya, komposisi seperti ini hanya dipakai sekali-sekali saja di dalam film karena dianggap tidak banyak mengungkapkan detil dan informasi, namun tidak begitu dalam The Fall. Saya rasa itu memang tujuan sang Sutradara yang ingin memamerkan permainan warna, setting dan framing andalannya.

Kadang-kadang, visual yang dihasilkan tampak seperti lukisan ketimbang adegan film; indah, atraktif, grand dan pleasing to the eyes. Bila melihat setting yang dipilih, terlihat bahwa Tarsem menyukai hal-hal yang berbau timur. Istana yang dipakai kebanyakan bergaya India, termasuk Taj Mahal. Ia juga menyajikan adegan tari kecak dalam setting pura Bali yang terletak di tengah-tengah sawah bertingkat. Bangga juga melihat kesenian Bali dipilih untuk ambil bagian dalam jalan cerita film ini.

Akting Catinca Untaru sangat memukau. Ia terlihat sangat natural memainkan peran sebagai seorang anak imigran yang pandai berbahasa Inggris, pintar dan pandai berimajinasi. Alexandria lugu namun pintar sehingga suka mengeluarkan komentar dan pertanyaan polos namun tidak terpikirkan oleh orang dewasa seperti Roy.

The Fall memang kaya dalam visual, namun lemah dalam pengembangan jalan cerita. Dari awal hingga akhir, plot-nya terasa datar saja. Tidak memukau namun juga tidak buruk, aman…terlalu aman malah. Well, memang film ini bukan pilihan yang tepat untuk memuaskan escapism, namun wajib ditonton bagi para pecinta visual yang artistik.

Yes Man

In Fictions, Film on Januari 26, 2009 at 5:58 pm

Sebelum nonton, gue nggak berharap kalau film ini bakalan bagus-bagus banget. Yah, minimal bisa membuat ketawa sekali dua kali aja sudah cukup. Ternyata, Yes Man cukup oke.

Bisa dibilang, Yes Man adalah come back performances yang prima dari Jim Carrey. Setelah sukses dengan tema film komedi serupa di era 90-an, Ia kembali berperan sebagai tokoh masyarakat biasa yang mengalami konflik unik dalam hidupnya.

Hidup Carl Allen (Jim Carrey) dalam masalah. Setelah diceraikan olah istrinya yang seksi, Stephanie (Molly Sims), Carl menjalani hari-harinya tanpa semangat. Ditambah lagi Ia terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang membosankan. Berkali-kali Ia menolak ajakan atau panggilan untuk bersenang-senang, bahkan ketika ajakan tersebut datang dari sahabat karibnya sendiri. Intinya Ia selalu mengatakan tidak untuk hal-hal diluar kegiatan rutinnya. Hingga suatu waktu Ia datang ke seminar Yes Man. Sejak itu, Carl menjalani hidup dengan berbeda. Ia selalu meng-iyakan kegiatan atau ajakan yang datang kepadanya. Ia mengikuti bermacam-macam les, berkencan dengan wanita Arab, hingga menerima tawaran seorang nenek untuk melakukan blow job. Namun ternyata “Iya” tidak selalu membawa akibat baik.

Akting Jim Carrey tetap lucu dan lincah seperti dulu, walaupun sudah lama Ia tidak main dalam film komedi sejenis ini. Sewaktu menonton, saya kembali terhibur dengan mimik mukanya yang selalu ekspresif dan terlihat sangat elastis he3x. Selain itu, tema yang diangkat-pun menarik dan diterjemahkan dengan baik dalam semua plot di film-nya.

Selain Jim, kehadiran Zooey Deschanel (berperan sebagai pacar Carl) juga menarik. Karakter cewek smart,manis,unik dan baik hati yang hobi naik vespa dan punya band nyentrik ini mampu dimainkan dengan baik oleh Zooey.

Kalau lagi in the mood nonton film yang ringan dan menghibur, Yes Man adalah pilihan yang tepat. Sayangnya waktu saya menonton, banyak orang tua yang membawa anak kecil (padahal sudah jelas ditulis hanya untuk orang dewasa) sehingga suasana di dalam berisik sekali. Pastinya ada yang nangis, ada yang nyanyi cicak-cicak di dinding pake tereak, sampe nendang-nendang kursi saya dari belakang. Hmmph, mau gimana lagi namanya juga anak kecil :D. Untung Yes Man-nya bagus jadi saya bisa tetap fokus melihat layar, cuek dengan gangguan di sekitar saya.