Achie

Archive for the ‘Film’ Category

The Ugly Truth

In Film on Oktober 11, 2009 at 12:59 pm

ugly-truth

Tanpa banyak basa-basi, Mike Chadway (Gerard Butler) membawakan sebuah talkshow yang membahas tentang hubungan pria dan wanita. Jauh dari kesan jaim, Mike sangatlah vulgar dalam memberikan opini, bahkan setting talkshow-pun dibuat seadanya seperti ruang kerja laki-laki yang berantakan dan seadanya. He’s a bad boy yang tidak malu menelanjangi para penelpon dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan, dan sebagian besar dinilai agak merendahkan martabat wanita. Hingga akhirnya Ia menandatangani kontrak untuk menjadi host dalam acara berita yang diproduseri oleh Abby Richter (Katherine Heigl), si pribadi perfeksionis dan kaku yang mengidamkan laki-laki dengan ciri-ciri yang diejek sebagai ciri-ciri ‘Gay’ oleh Mike. Perbedaan mereka yang kontras membuat Abby selalu naik pitam. Dari sinilah plot The Ugly Truth berkembang. Kedekatan Mike dan Abby dalam pekerjaan, yang dimana lebih banyak kontra daripada pro-nya, mewarnai narasi film ini.

Film ringan yang sangat menghibur, durasinya yang pendek memang terasa namun rangkaian dialog konyol dan scene-nya yang komikal konstan membuat penonton terhibur dari awal sampai akhir film. Bila dipanjangkan lagi, ceritanya pasti akan terasa bertele-tele.

The Ugly Truth yang menjadi pesan utama film ini, disampaikan dengan vulgar oleh Mike Chadway dalam perannya sebagai host. Ia jenis lelaki yang percaya, bahwa fisik wanita sangat menentukan keberhasilan mereka dalam mendapatkan jodoh. Wanita harus misterius sekaligus menggoda, mereka harus menggunakan ‘aset’ fisik mereka untuk menggaet laki-laki, yap begitulah saran Mike kepada para penonton setianya. Menyenangkan mendengar celotehannya yang kasar namun pada saat yang sama very true. Sementara itu, Abby yang mengagungkan keajaiban feeling dan naluri, menolak mentah-mentah idealisme Mike.

Akting Katherine Heigl mengungguli Gerard Butler di film ini, jauh dari perannya sebagai dokter di Grey’s Anatomy, Katherine sukses memainkan peran sebagai seorang wanita urban yang control freak dan perfeksionis. Ia cocok memainkan peran-peran ringan seperti ini, seperti perannya dalam film komedi romantis 27 Dressess.

Kesimpulan saya, film ini cukup menyenangkan. Tidak ada salahnya menyempatkan sedikit waktu di malam hari setelah kerja untuk menontonnya bersama teman atau pasangan kita.

Documentary, representation of reality?

In Docus, Film on Agustus 26, 2009 at 5:44 am

Do you like documentary films? Or you don’t because you think that this type of films are boring and not interesting?

Or, do you think such films represent the truth, nothing but the truth? If you do, then you have to read this post…

Representing Reality???

Many people think that documentary is a representation of reality, simply because they assume that this type of film is recording factual events or regarding factual subjects. Moreover, they often think that documentary is identical with objectivity, thus it should be objective. Well, they are wrong.

Documentary is not a representation of reality, but it is the film maker’s representation of our historical world. What is conveyed in the film is the film maker’s point of views or arguments, and what makes it a documentary is because the representation is concerning on social matters or issues. I learned this from a book titled ‘Introduction to Documentary’ by Bill Nichols, the father of documentary.

The Example: Bowling for Columbine

Let’s take Bowling for Columbine by Michael Moore as the example. The film is about gun violence in U.S and U.S gun ownership policy. Moore uses the shooting incident at Columbine High School as a case to begin his arguments. He tries to convey that gun violence in America have been becoming more serious for these past few years. The number of cases on gun violence is increasing, A lot of innocent people was killed, and there is no sign of this going to be stop. The next question is, who is the bad guy? What factors have made these problems emerged in America?

These are questions that Moore tries to answer in the film. He has his own answers and he attempts to make his viewers believe on him. Briefly saying, he wants the viewers to think that he is right.

In the film, it is obvious that Moore doesn’t attempt to be neutral. He aggressively posts his arguments by giving subjective evidences. Moreover, he is not only interviewing his correspondents but he is also intriguing them with unexpected and disturbing questions.

According to theory, this film is a documentary because of two reasons:

1. It represents the film maker’s point of views.

Even though the authenticity of some evidences are doubtful but Bowling for Columbine represents Michael Moore’s point of views. He believes that America’s unrestricted gun ownership policy and culture have made the big problems emerged.

2. Social matters or issues about our historical world

Michael Moore’s arguments are concerning on social matters or issues. The issues are gun violence and gun ownership policy in U.S. Thus Bowling for columbine is a documentary.

The issue of objectivity

Documentary is definitely not objective. How it could be objective if in its very nature, documentary is not a representation of reality? what is being conveyed in the documentary is the film maker’s particular perspectives about our historical world. When he defends his arguments or point of views in the film, it is impossible for him to be on both sides. It is just like a lawyer defending his client. He has to support one side and disregard the other side. It is a matter of choice; on which side do you want you to be?

Are you still thinking that documentary is boring and not interesting?

There is a lot that you can gain from a documentary despite a bunch of knowledge. It is fun to analyze how the filmmaker drags you on his side; how he persuades you with his arguments only to accept his point of views. Please remember that when you see a documentary, it means that you see the historical world from the eyes of the filmmaker.

Documentary is about both communication and persuasion. There are many things you can learn by watching documentaries;

  1. You can learn how to communicate ideas by using commentaries and images.
  2. Not only learn how to communicate, but you also can learn how to persuade people, because documentary is an art of persuasion. Therefore, you can learn how to persuade people in order for them to accept your ideas. It is always exciting when you can make people believe on what you think….it seems like you have power over them.
  3. Different filmmakers have different approaches. Perhaps you can imitate their techniques and make a documentary of your own

So, how about know? Still perceive documentary the same way as what you’ve been always thinking?

Here’s a suggestion: next time when you see a documentary, try to practice what you’ve learned from this post. Try to understand what goes beyond the film. because it is the ‘key’ to understand documentary. Happy watching…

Karya Wong Kar Wai

In Fictions, Film on Agustus 16, 2009 at 5:32 pm

in-the-mood-for-lovein_the_mood_for_love1ChungkingExpress

Wong Kar Wai adalah sutradara film terkenal dari Hongkong. Karyanya mungkin tidak terlalu dikenal secara komersil namun banyak diminati oleh peminat film independen dan kerap mendapat comment positif dari para kritikus film. Pertama kali saya mengenal karyanya ketika duduk dibangku kuliah, kala itu kelas film yang saya ambil mengadakan screening Chungking Express.

Dalam dunia film-making, Wong Kar Wai layak mendapat predikat auteur, yaitu istilah yang diberikan kepada para sutradara film yang dianggap memiliki ciri khas konsisten dan ‘beda’ dalam film-film mereka. Alfred Hitchcock adalah salah satu sutradara terkenal yang juga menyandang predikat ini.

Ciri khas yang dimiliki Wong Kar Wai terletak pada storyline yang tidak konservatif, tone visual yang hangat namun gelap dan menyiratkan kesenduan, serta presentasi yang ‘nyeni’ dan nostalgic. Para pecinta seni visual pasti akan menikmati shot, angle dan lighting ciri khas Wong Kar Wai.

Banyak pengamat film dalam negeri Hongkong maupun asing yang mendeskripsikan karya Wong Kar Wai sebagai: masterpiece, piece of art, dan elegant. Beberapa review-nya dapat Anda googling di web.

Gabungan visual yang nyeni dan musik latar yang juga nostalgic (kebanyakan musik Jazz) membuat adegan yang disyuting Wong Kar Wai terasa atmospheric. If it’s a romantic film, wong kar would create elegant pieces, if it’s full of conflicts, he would create chaotic visuals, which sometimes ignore the fundamental rule of film-making. The man really got taste.

Berikut filmography Wong Kar Wai, siapa tahu Anda tertarik dan akhirnya menjadi salut kepadanya, seperti saya;

Film:

  • 1988 As Tears Go By
  • 1991 Days of Being Wild
  • 1994 Chungking Express
  • 1994 Ashes of Time
  • 1995 Fallen Angels
  • 1997 Happy Together
  • 2000 In the Mood for Love
  • 2004 2046
  • 2007 My Blueberry Nights
  • 2008 Ashes of Time Redux
  • 2009 The Lady from Shanghai

Film Pendek:

  • 1996 wkw/tk/1996@7’55″hk.net
  • 2000 Hua Yang De Nian Hua
  • 2001 The Hire: The Follow
  • 2002 Six Days
  • 2004 Eros
  • 2007 Chacun son cinéma
  • 2007 There’s Only One Sun

Coffee Prince

In Fictions, Film on Agustus 16, 2009 at 4:40 pm

Coffee Prince

Coffee Prince adalah film drama seri korea yang masih mengusung tema umum yaitu: love story. Masih juga mengandalkan komedi dari dinamika pasangan konyol yang biasa ada di kebanyakan film drama Korea. Namun, yang membuat seri ini berbeda, adalah plot dan karakternya yang terasa real.

Ada dua plot utama dalam film ini, yang masing-masing dilakoni oleh sepasang pria dan wanita yang terlibat dalam masalah percintaan. Pemeran utama adalah seorang wanita bernama Go Eun Chan, berpasangan dengan Choi Han Kyul. Sedangkan plot kedua dilakoni oleh pemain pendukung, Choi Han Sung berpasangan dengan Han Yoo Joo. Kedua plot ini menggambarkan dua percintaan yang berbeda, pasangan pertama menjalani percintaan mereka seperti remaja; tampak selalu kasmaran dan konyol, sering ngambek, dan terkadang sangat ekspresif seperti sedang mengalami gejala excessive happiness. Sebaliknya, pasangan kedua, Choi Han Sung dan Han Yoo Joo terlihat sangat dewasa dalam menjalani hubungan mereka yang sedang mengalami konflik serius. Mereka berdua layaknya pasangan dewasa dalam dunia nyata yang sudah melewati masa-masa puber dalam berpacaran.

Kedua plot inilah yang membuat saya betah mengikuti drama seri (biasanya saya jarang nonton drama seri korea), karena perbandingan antara keduanya membuat saya terhibur namun juga merasa connect dengan jalan cerita dan karakternya. Perilaku Go Eun Chan dan Choi Han Kyul membuat saya terbahak-bahak bahkan terkadang membuat saya gemas sekali dengan mereka (khas joke Korea). Sedangkan, kisah Choi Han Sung dan Han Yoo Joo terasa sangat alami, hingga saya bisa membayangkan karakter mereka ada dalam kehidupan yang sebenarnya. Bisa dibilang, kedua plot ini membuat storyline dalam film seimbang, tidak terlalu konyol dan berlebihan seperti komedi romantis korea, namun juga tidak terlalu serius seperti film drama korea yang plotnya berjalan lambat, pas!

Akting pemeran utama, Go Eun Chan (Yoon Eun Hye) dan Choi Han Kyul (Gong Yoo) sangat menarik dan terlihat total. Mereka sangat fasih memainkan detil-detil konyol dan simpatik dalam berpacaran, membuat penonton wanita senyum-senyum sendiri. Bahkan kabarnya Yoo Eun Hye meraih penghargaan atas perannya di drama seri ini. Selain itu, akting pasangan kedua juga tidak kalah menarik. Selain plot yang menghibur, penggambaran karakter yang baik juga merupakan keunggulan Coffee Prince.

Kesimpulan saya, Coffee Prince adalah salah satu drama seri Korea yang menarik untuk ditonton, sekalipun bagi orang yang menganggap drama korea terlalu lebay. Buktinya, Coffee Prince berhasil mengambil simpati seorang teman saya yang dulunya menghujat segala jenis drama seri korea bertemakan komedi romantis. Bahkan hingga kini Ia masih sering menonton ulang adegan favoritnya.

Up! up and away!

In Animation, Film on Agustus 16, 2009 at 1:53 pm

UP!Waktu saya menonton Up! bersama teman-teman, kebetulan mood kami semua sedang jelek, karena itulah kami harap tontonan terbaru keluaran Walt Disney dan pixar ini bisa membuat kami semua senang kembali.

Efeknya persis seperti yang kami harapkan. Kami adalah tipe penonton yang suka komentar selagi menonton, lebih sering mencela ketimbang memberi comment positif. Namun ketika menonton Up! Kami relatif anteng, semua fokus mengikuti jalan cerita sambil tertawa terbahak-bahak tentunya. Dan akhirnya keluar dengan perasaan puas dan terhibur.

Up! the film is special! Jalan cerita didasari oleh niat yang sederhana dari Mr. Fredericksen, suami setia yang ingin mengabulkan mimpi mendiang istrinya. Namun, dibalut oleh tokoh-tokoh yang memukau dan plot yang menarik, keseluruhan narasi Up! menjadi sangat spesial.

Film ini mengusung tema beragam, dimulai dari drama, petualangan, komedi, dan aksi. Bukan hal mudah membuat kesemua tema tersebut hidup dengan seimbang dalam satu film, disinilah nilai brilian dari tim penyusun naskah Up!. Mayoritas penonton tertawa melihat tingkah laku Russel, Kevin, dan Dug. Penonton juga merasa deg-degan melihat aksi kejar-kejaran antara Mr. Fredericksen dan idolanya di masa kecil. Selain itu, penonton juga terharu melihat hubungan Mr. Fredericksen dan istrinya, Ellie. Bahkan beberapa teman pria saya ada yang menangis melihat film ini.

Soal kualitas animasinya? Tidak diragukan lagi, Pixar tidak pernah mengecewakan penonton. Gambar yang sangat jernih dan detil-detil yang terlihat sangat real, membuat penonton terkagum-kagum.

Seminggu setelah saya dan teman-teman menonton Up! Kami masih sering membicarakan tentang Russel, Kevin serta si lucu Dug dan teman-teman anjingnya yang konyol. This is what a film supposed to be, it’s supposed to touch your heart, capture your attention, and stays long enough in your memory. Wonderful!

Kapan Ya?

In Docus, Film, Uncategorized on Agustus 16, 2009 at 1:20 pm

Ingin sekali melihat sebuah stasiun TV di Indonesia yang khusus menayangkan film-film dokumenter dalam maupun luar negeri. Bukan hanya karena saya fans film dokumenter, namun karena banyak sekali pengetahuan yang terkandung didalamnya, sehingga rakyat Indonesia bisa menambah wawasan dan memiliki tontonan alternatif selain dari apa yang ditawarkan para stasiun TV nasional sekarang ini.

Mungkin belum ada investor dalam negeri yang tertarik untuk membuat stasiun TV seperti National Geographic, lagi-lagi karena alasan minimnya nilai komersial dari film dokumenter. Oleh karena itu dianggap akan sepi penonton karena masyarakat Indonesia masih belum terlalu mengerti akan manfaat dan esensi dari film dokumenter.

Bagaimana masyarakat kita akan mengerti kalau mereka tidak pernah diberikan kesempatan untuk mengenal film dokumenter? Selama ini mereka lebih banyak dijejali oleh berbagai tayangan sinetron maupun reality show yang lebih condong pada sisi hiburan ketimbang edukatif. Coba kalau tayangan TV lebih variatif, Mungkin dapat membuat masyarakat Indonesia, terutama yang berada di daerah menjadi lebih kritis dan kreatif. Mereka akan memiliki sudut pandang yang lebih luas karena dihadapkan oleh tontonan yang berbagai jenis.

Begitu halnya dengan film dokumenter, bagaimana mereka akan belajar untuk mencintai apabila mereka tidak pernah diperkenalkan. Tepat seperti pepatah tak kenal maka tak sayang. Padahal di negeri ini banyak topik menarik yang dapat diangkat dalam format dokumenter, baik dari segi politik, sosial dan budaya, seni, maupun flora dan fauna. Terbukti dari banyaknya pembuat film dokumenter asing yang kerap menjadikan Indonesia sebagai tujuan mereka mencari materi.

Sebetulnya banyak film dokumenter yang dihasilkan para sineas dalam negeri, namun sebagian besar belum dipublikasikan secara luas, malah lebih fokus pada penayangan di festival film luar negeri. Sangat disayangkan, hanya sedikit masyarakat negeri ini yang memiliki akses untuk menikmati film-film dokumenter tersebut.

Sungguh sayang melihat film dokumenter tentang negeri sendiri, dibuat oleh orang asing, dan hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang di negeri ini. Mudah-mudahan dalam waktu sepuluh tahun mendatang ada investor yang mau mempromosikan film dokumenter kepada masyarakat Indonesia. Semoga … 😀

Twilight (the movie)

In Fictions, Film on Januari 28, 2009 at 5:19 pm

78338_kristen-stewart-and-robert-pattinson-in-the-forest-in-twilightAkhirnya kesampaian juga nonton Twilight. Begitu dapat kabar kalau filmnya sudah turun ke jam biasa, saya langsung pergi ke 21 Cineplex dan membeli tiketnya. Niat sekali memang, karena saya penasaran melihat seperti apa cerita dan tokoh-tokoh Twilight divisualisasikan ke dalam layar sinema.

Menurut berita online, Twilight berhasil meraih BOX OFFICE pada minggu pertama pemutarannya di Amerika, setara dengan Quantum of Solace. Hal ini cukup menarik karena Twilight yang tergolong kategori film chick flick mampu sejajar dengan film sekelas James Bond.

Secara keseluruhan filmnya ok saja. Saya sedikit kecewa dengan storyline yang kurang mengalir dan editing yang tidak smooth. Karena kedua hal inilah, film ini terasa kurang gregetnya. Meskipun begitu saya mengerti tidaklah mudah memuaskan imajinasi para fans Twilight yang sangat banyak jumlahnya.

Dalam jalan ceritanya, tahap perkembangan hubungan Bella dan Edward tidak tergambar dengan jelas, tahu-tahu mereka sudah semakin dekat dan saling menyatakan perasaan satu sama lain. Padahal, tahap inilah yang membuat Twilight spesial dan menyenangkan untuk disimak. Tahap ini juga yang membuat saya dan fans lainnya mesem-mesem sendiri dan membaca berulang-ulang halaman yang telah lewat.

Pastilah sulit untuk merangkum Twilight dalam balutan film berdurasi 2 jam lebih. Hal ini terlihat dari kesinambungan antara beberapa adegan yang kurang rapih. Selain itu, sewaktu menonton, saya merasa seperti diburu waktu agar ceritanya cepat selesai, padahal ingin sejenak relaks dan menikmati karakter serta dialog mereka.

Dari segi karakter, saya merasa peran Ayah Bella termasuk salah satu yang menarik perhatian. Padahal di bukunya, beliau hanya berfungsi sebagai pelengkap saja. Lalu Victoria juga cukup dominan, meskipun Ia hanya muncul sesekali. Secara keseluruhan, akting pemeran lainnya cukup. Mudah-mudahan di film berikutnya mereka bisa membawakan karakter masing-masing lebih luwes lagi.

Ada satu kesalahan yang saya sempat perhatikan, yaitu kurang rapihnya make-up Esme sewaktu Ia pertama kali bertemu dengan Bella. Terlihat di bagian atas dahinya ada bagian yang tidak tertutupi foundation putih sehingga kelihatan belang.

Saya sempat mentertawakan beberapa adegan romantis Bella & Edward, karena dilengkapi dengan efek editing dan background music yang agak terlalu lebay. Ada bagian dimana Bella memimpikan Edward mengigitnya di suatu ruangan bersetting victoria lengkap dengan pakaian bergaya sama hi3x agak berlebihan saya rasa.

Selain beberapa kelemahan diatas, saya memuji keputusan sutradaranya yang menyediakan banyak close-up muka Edward. Banyaknya close-ups shots tersebut membuat para penonton wanita di dalam bioskop mesem-mesem, teriak-teriak, dan heboh sendiri, ha3x. Mungkin karena sutradaranya wanita, dia tahu betul apa yang fans mau…yaitu Edward Cullen!

Anyway, saya tidak menyesal nonton Twilight karena visualisasi sinema tidak dapat dibandingkan dengan imajinasi pribadi. Sehingga kelemahan-kelemahannya bersifat maklum saja. Yang penting sekarang saya sudah tidak penasaran lagi 🙂 Long live Edward! Ha3x

(written on December 2nd 2008 )

Drupadi

In Fictions, Film on Januari 28, 2009 at 5:16 pm

drupadi1Kisah Drupadi (atau Draupadi dalam bahasa sansekerta) memiliki dua versi. Dalam kitab Mahabrata, disebutkan Drupadi merupakan istri dari pandawa lima, yaitu: Yudistira, Arjuna, Bima, Nakula dan Sadewa. Sedangkan dalam tradisi pewayangan Jawa, Ia diceritakan hanya bersuamikan Yudistira. Kali ini dalam film Drupadi, Riri Riza memilih versi kitab Mahabrata untuk menceritakan kemalangan yang menimpa putri Panchali yang cantik dan berhati luhur.

Film yang berdurasi 45 menit ini dibintangi oleh: Dian Sastrowardoyo (Drupadi), Dwi Sasono (Yudistira), Nicholas Saputra (Arjuna), Ario Bayu (Bima), Butet Kartaredjasa (Patih Sengkuni), dll. Singkatnya durasi film ini mengambil inti cerita dari momen dimana Drupadi dijadikan bahan taruhan dalam permainan dadu antara Yudistira dan Dursasana yang berakhir dengan aksi pelecehan terhadap dirinya.

Awalnya saya tidak begitu terkesan, namun seiring dengan meningkatnya konflik dalam cerita, saya mulai bisa menikmati esensi dari film ini. Keseluruhan plot hanya memaparkan sequence dari kejadian-kejadian penting yaitu, ( 1 )momen dimana Arjuna berhasil memenangkan kompetisi memanah dan mendapatkan Drupadi sebagai hadiahnya, ( 2 ) potongan adegan singkat mengenai jenis cinta yang dirasakan Drupadi terhadap kelima suaminya, ( 3 ) permainan dadu yang berakhir tragis, hingga closing-nya berupa ( 4 ) pemberontakan pandawa dan Drupadi terhadap kerajaan Kurawa. Jeda diantara sequence ini diisi oleh judul yang mewakili tiap peristiwa penting tadi.

Strategi pembagian sequence yang seperti membagi bab-bab dalam buku ini saya rasa efektif karena jalan ceritanya mejadi fokus dan tidak bertele-tele.
Akting Dian Sastrowardoyo sangat kurang, sayang sekali karena Ia memainkan peran utama dalam film ini. sedangka Butet Kertaredjasa selalu memukau seperti biasanya.

Selain segi akting, wardrobe dan make-up juga menarik untuk disimak. Banyak dari gaun Drupadi memakai kain prada bali digabung dengan batik Jawa serta kain Sumatera. Walaupun mungkin tidak realistis dengan sejarah, namun disainnya bagus dan terkesan pas-pas saja. Selain itu, ketika melihat make-up dan gaya rambut Drupadi, sekilas saya seperti melihat kemiripan dengan konsep make-up dan gaya rambut Queen Amidala di Star Wars.

Secara keseluruhan film ini menarik dan wajib ditonton bagi Anda yang ingin menyaksikan sebuah karya seni yang diangkat dari lengenda dan menggambarkan secara implisit konflik yang timbul di zaman sekarang.

Revolutionary Road

In Fictions, Film on Januari 28, 2009 at 4:20 pm
Revolutionary RoadRevolutionary Road termasuk salah satu film unggulan dalam ajang Golden Globe yang baru diadakan tanggal 11 Januari kemarin. Total dinominasikan untuk 18 kategori dan mendapatkan satu penghargaan, yaitu Best performance female Actress yang diperoleh Kate Winslet.

Nama film ini diambil dari nama jalan tempat tempat pasangan muda Frank (Leonardo di Caprio) dan April (Kate Winslet) tinggal. Tempat yang menjadi saksi kehidupan rumah tangga mereka.

Pasangan Frank dan April dikagumi banyak orang, mereka muda, serasi, keren, dan tampak rukun. Namun sebenarnya, mereka labil dan kesulitan mencari jati diri masing-masing. Hal inilah yang membawa masalah dalam rumah tangga mereka. Frank yang masih terus mencari hal yang paling diinginkan dalam hidupnya, menahan diri untuk tetap bekerja di kantor demi keluarga. Sedangkan karir April dalam teater merosot karena aktingnya yang buruk. Dihadapi oleh kenyataan seperti ini, April tidak mampu mengembalikan moodnya dalam menjalani hidup, padahal Ia harus tampil senantiasa kuat demi anak-anaknya.

Tiba-tiba April mendapat ide agar seluruh keluarga pindah ke Paris, negara yang selalu dicintai Frank. April berinisiatif untuk mencari pekerjaan sebagai sekretaris atase luar negeri di sana, yang dia yakini mendapat bayaran yang sangat besar. Sehingga cukup hanya dia yang bekerja untuk menghidupi keluarga, sementara Frank memiliki waktu tenang untuk mencari pekerjaan yang paling diinginkannya. Awalnya Frank berpikir ini ide gila, namun akhirnya Ia setuju. Dan sejak saat itu mereka berubah menjadi lebih optimis dan gembira, membayangkan nikmatnya hidup di kota yang penuh kehidupan seperti Paris. Namun ternyata rencana ini harus dibatalkan karena tiba-tiba April mengandung.

Disinilah inti konflik film ini mulai berjalan. Frank & April yang tadinya sudah terbuai dalam mimpi nikmatnya tinggal di Paris, harus kembali pada realita dimana mereka harus tetap tinggal di Revolutionary Road demi bayi yang akan lahir. Frank siap dengan nasib ini, namun tidak demikian dengan April…

Yang istimewa dari film ini adalah akting Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet. Mereka berdua mampu membuat karakter rekaan menjadi sangat real dan manusiawi. Saya seringkali merasa bahwa karakter mereka adalah nyata ketika menonton. Selain itu, mereka juga sangat lihai memainkan emosi dan perasaan penonton. Total Drama! Tidak heran mereka berdua dinominasikan sebagai aktor dan aktris terbaik dalam Golden Globe kemarin.

Bila ingin mencari hiburan, jangan menonton film ini karena film ini tidak menghibur namun memberikan pesan moral dan pelajaran dalam hidup, terutama kehidupan rumah tangga pasangan muda. Oleh karena itu saya yakin banyak orang akan merasa bosan ketika menonton Revolutionary Road. Sebaliknya, bila Anda lebih tertarik kepada akting daripada aksi, Anda wajib menonton film ini. I gave 4 stars for Leo & kate’s performances.

Atonement

In Fictions, Film on Januari 28, 2009 at 4:19 pm

atonementFilm drama romantis zaman perang pada umumnya diawali atau diakhiri oleh kisah tragis. Begitu juga dengan Atonement.

Cecilia (Keira Knightley dan Robbie (James Mc Avoy) adalah sepasang remaja yang saling mencintai. Walaupun hubungan mereka diwarnai oleh perbedaan status, namun bukan hal ini yang memisahkan mereka. Sebuah fitnah yang dilayangkan adik Cecilia (Brioni) pada Robbie membuatnya harus memilih antara penjara atau wamil. Kedua pilihan tersebut mau tidak mau membuat dirinya harus berpisah dengan Cecilia. Cecilia tidak diizinkan bertemu dengan Robbie, hingga akhirnya Cecilia nekat dan mereka berdua sempat bertemu di sebuah restoran. Namun pertemuan tersebut terpaksa dibuat singkat karena Robbie harus kembali berperang dan Cecilie belajar di akademi perawat.

Kisah ini diadaptasi dari sebuah novel karya Ian McEwan. Atonement berhasil masuk ke dalam banyak nominasi OSCAR tahun 2008, namun hanya memenangkan satu, yaitu kategori Best Original Scoring.

Keunggulan film ini adalah storyline yang rapih, mengalir, dan sangat menyentuh. Sangat nyaman mengikuti plot demi plot dalam film ini. Walaupun narasinya memvisualisasikan cerita dari sudut pandang yang berpindah-pindah (berbeda-beda), namun surprisingly ceritanya sangat mudah dimengerti.

Di dalam film ini, penonton diperlihatkan sudut pandang dari 2 titik, yaitu fakta (outside Brioni’s mind and thoughts) dan sudut pandang si kecil Brioni (inside her mind and thoughs). Sehingga seiring berjalannya cerita, kita dapat menyadari bahwa poros utama adalah kebohongan Brioni yang sudah menyeret hubungan kakaknya dalam perpisahan.

This movie is beautiful! Ceritanya sangat sedih namun tidak membuat saya cepat bosan. Naskahnya sukses membawa penonton terlibat dalam kisah Cecilia dan Robby. Ketika menonton Atonement, terasa reaksi yang serupa ketika saya menonton English patient; sedih, kagum dan deeply engaged.

Yang paling saya sukai dalam film ini adalah konflik-konfliknya yang terasa nyata. Ceritanya tidak berlebih-lebihan, namun dapat membuat penonton sangat terlibat dalam cerita. Selain itu, akting Kiera, James dan Brioni juga bagus.

Akankah di tahun 2009 ini menghasilkan film drama romantis zaman perang sebaik atau lebih dari Atonement? Semoga saja…