Achie

Archive for Januari, 2009|Monthly archive page

Movie list (for girl’s night out)

In Movie Lists on Januari 28, 2009 at 5:51 pm

Ini adalah list film-film yang pernah saya tonton dan recommended untuk ditonton bersama teman-teman wanita. semoga berguna!

Twilight (2/5)

Genre: romance

Year: 2008

Cast: Robert Pattinson & Kristen Stewart

Serendipity (3/5)

Genre: romance

Year: 2001

Cast: John Cusack, Kate Beckinsale

Kate & Leopold (4/5)

Genre: romance

Year: 2001

Cast: Hugh Jackman, Meg Ryan

Little women (4/5)

Genre: classic romance/family

Year: 1994

Cast: Winona Ryder, Kirsten Dunst, Claire Danes, Christian Bale

Cinema Paradiso (5/5)

Genre: drama/romance

Year: 1988

Written by: Giuseppe Tornatore

Head over heels (3/5)

Genre: comedy/romance

Year: 2001

Cast: Monica Potter, Freddie Prinze Jr.

Steel Magnolias (4/5)

Genre: drama

Year: 1989

Cast: Sally Field, Dolly Parton, Julia Roberts

The Age of Innocence (4/5)

Genre: classic romance

Year: 1993

Cast: Daniel Day-Lewis, Michelle Pfeiffer, Winona Ryder

27 Dresses (3/5)

Year: 2008

Genre: romantic comedy

Cast: Katherine Heighl, James Marsden

Juno (4/5)

Year: 2008

Genre: comedy

Cast: Jason Bateman, Emily Perkins, Jennifer Garner

Atonement (5/5)

Year: 2008

Genre: drama/romance

Cast: Kiera Knightley, James McAvoy

The Devils wear Prada (3/5)

Year: 2006

Genre: comedy/romance

Cast: Meryl Streep, Anne Hathaway

The Holiday (3/5)

Year: 2006

Genre: romance

Cast: Cameron Diaz, Kate Winslet, Jude Law, Jack Black

Under the Tuscan Sun (3/5)

Year: 2003

Genre: romance

Cast: Diane Lane

My Big Fat Greek Wedding (3/5)

Year: 2002

Genre: romantic comedy

Cast: Nia Vardalos, John Corbett

Mamma Mia! The Movie (5/5)

Genre: musical/romantic

Year: 2008

Cast: Meryl Streep, Colin Firth, Pierce Brosnan, Stellan Skarsgard, Amanda Seyfried

House Bunny (3/5)

Genre: romantic comedy

Year: 2008

Cast: Anna Faris

The list is to be continued…

Twilight (the movie)

In Fictions, Film on Januari 28, 2009 at 5:19 pm

78338_kristen-stewart-and-robert-pattinson-in-the-forest-in-twilightAkhirnya kesampaian juga nonton Twilight. Begitu dapat kabar kalau filmnya sudah turun ke jam biasa, saya langsung pergi ke 21 Cineplex dan membeli tiketnya. Niat sekali memang, karena saya penasaran melihat seperti apa cerita dan tokoh-tokoh Twilight divisualisasikan ke dalam layar sinema.

Menurut berita online, Twilight berhasil meraih BOX OFFICE pada minggu pertama pemutarannya di Amerika, setara dengan Quantum of Solace. Hal ini cukup menarik karena Twilight yang tergolong kategori film chick flick mampu sejajar dengan film sekelas James Bond.

Secara keseluruhan filmnya ok saja. Saya sedikit kecewa dengan storyline yang kurang mengalir dan editing yang tidak smooth. Karena kedua hal inilah, film ini terasa kurang gregetnya. Meskipun begitu saya mengerti tidaklah mudah memuaskan imajinasi para fans Twilight yang sangat banyak jumlahnya.

Dalam jalan ceritanya, tahap perkembangan hubungan Bella dan Edward tidak tergambar dengan jelas, tahu-tahu mereka sudah semakin dekat dan saling menyatakan perasaan satu sama lain. Padahal, tahap inilah yang membuat Twilight spesial dan menyenangkan untuk disimak. Tahap ini juga yang membuat saya dan fans lainnya mesem-mesem sendiri dan membaca berulang-ulang halaman yang telah lewat.

Pastilah sulit untuk merangkum Twilight dalam balutan film berdurasi 2 jam lebih. Hal ini terlihat dari kesinambungan antara beberapa adegan yang kurang rapih. Selain itu, sewaktu menonton, saya merasa seperti diburu waktu agar ceritanya cepat selesai, padahal ingin sejenak relaks dan menikmati karakter serta dialog mereka.

Dari segi karakter, saya merasa peran Ayah Bella termasuk salah satu yang menarik perhatian. Padahal di bukunya, beliau hanya berfungsi sebagai pelengkap saja. Lalu Victoria juga cukup dominan, meskipun Ia hanya muncul sesekali. Secara keseluruhan, akting pemeran lainnya cukup. Mudah-mudahan di film berikutnya mereka bisa membawakan karakter masing-masing lebih luwes lagi.

Ada satu kesalahan yang saya sempat perhatikan, yaitu kurang rapihnya make-up Esme sewaktu Ia pertama kali bertemu dengan Bella. Terlihat di bagian atas dahinya ada bagian yang tidak tertutupi foundation putih sehingga kelihatan belang.

Saya sempat mentertawakan beberapa adegan romantis Bella & Edward, karena dilengkapi dengan efek editing dan background music yang agak terlalu lebay. Ada bagian dimana Bella memimpikan Edward mengigitnya di suatu ruangan bersetting victoria lengkap dengan pakaian bergaya sama hi3x agak berlebihan saya rasa.

Selain beberapa kelemahan diatas, saya memuji keputusan sutradaranya yang menyediakan banyak close-up muka Edward. Banyaknya close-ups shots tersebut membuat para penonton wanita di dalam bioskop mesem-mesem, teriak-teriak, dan heboh sendiri, ha3x. Mungkin karena sutradaranya wanita, dia tahu betul apa yang fans mau…yaitu Edward Cullen!

Anyway, saya tidak menyesal nonton Twilight karena visualisasi sinema tidak dapat dibandingkan dengan imajinasi pribadi. Sehingga kelemahan-kelemahannya bersifat maklum saja. Yang penting sekarang saya sudah tidak penasaran lagi 🙂 Long live Edward! Ha3x

(written on December 2nd 2008 )

Drupadi

In Fictions, Film on Januari 28, 2009 at 5:16 pm

drupadi1Kisah Drupadi (atau Draupadi dalam bahasa sansekerta) memiliki dua versi. Dalam kitab Mahabrata, disebutkan Drupadi merupakan istri dari pandawa lima, yaitu: Yudistira, Arjuna, Bima, Nakula dan Sadewa. Sedangkan dalam tradisi pewayangan Jawa, Ia diceritakan hanya bersuamikan Yudistira. Kali ini dalam film Drupadi, Riri Riza memilih versi kitab Mahabrata untuk menceritakan kemalangan yang menimpa putri Panchali yang cantik dan berhati luhur.

Film yang berdurasi 45 menit ini dibintangi oleh: Dian Sastrowardoyo (Drupadi), Dwi Sasono (Yudistira), Nicholas Saputra (Arjuna), Ario Bayu (Bima), Butet Kartaredjasa (Patih Sengkuni), dll. Singkatnya durasi film ini mengambil inti cerita dari momen dimana Drupadi dijadikan bahan taruhan dalam permainan dadu antara Yudistira dan Dursasana yang berakhir dengan aksi pelecehan terhadap dirinya.

Awalnya saya tidak begitu terkesan, namun seiring dengan meningkatnya konflik dalam cerita, saya mulai bisa menikmati esensi dari film ini. Keseluruhan plot hanya memaparkan sequence dari kejadian-kejadian penting yaitu, ( 1 )momen dimana Arjuna berhasil memenangkan kompetisi memanah dan mendapatkan Drupadi sebagai hadiahnya, ( 2 ) potongan adegan singkat mengenai jenis cinta yang dirasakan Drupadi terhadap kelima suaminya, ( 3 ) permainan dadu yang berakhir tragis, hingga closing-nya berupa ( 4 ) pemberontakan pandawa dan Drupadi terhadap kerajaan Kurawa. Jeda diantara sequence ini diisi oleh judul yang mewakili tiap peristiwa penting tadi.

Strategi pembagian sequence yang seperti membagi bab-bab dalam buku ini saya rasa efektif karena jalan ceritanya mejadi fokus dan tidak bertele-tele.
Akting Dian Sastrowardoyo sangat kurang, sayang sekali karena Ia memainkan peran utama dalam film ini. sedangka Butet Kertaredjasa selalu memukau seperti biasanya.

Selain segi akting, wardrobe dan make-up juga menarik untuk disimak. Banyak dari gaun Drupadi memakai kain prada bali digabung dengan batik Jawa serta kain Sumatera. Walaupun mungkin tidak realistis dengan sejarah, namun disainnya bagus dan terkesan pas-pas saja. Selain itu, ketika melihat make-up dan gaya rambut Drupadi, sekilas saya seperti melihat kemiripan dengan konsep make-up dan gaya rambut Queen Amidala di Star Wars.

Secara keseluruhan film ini menarik dan wajib ditonton bagi Anda yang ingin menyaksikan sebuah karya seni yang diangkat dari lengenda dan menggambarkan secara implisit konflik yang timbul di zaman sekarang.

Revolutionary Road

In Fictions, Film on Januari 28, 2009 at 4:20 pm
Revolutionary RoadRevolutionary Road termasuk salah satu film unggulan dalam ajang Golden Globe yang baru diadakan tanggal 11 Januari kemarin. Total dinominasikan untuk 18 kategori dan mendapatkan satu penghargaan, yaitu Best performance female Actress yang diperoleh Kate Winslet.

Nama film ini diambil dari nama jalan tempat tempat pasangan muda Frank (Leonardo di Caprio) dan April (Kate Winslet) tinggal. Tempat yang menjadi saksi kehidupan rumah tangga mereka.

Pasangan Frank dan April dikagumi banyak orang, mereka muda, serasi, keren, dan tampak rukun. Namun sebenarnya, mereka labil dan kesulitan mencari jati diri masing-masing. Hal inilah yang membawa masalah dalam rumah tangga mereka. Frank yang masih terus mencari hal yang paling diinginkan dalam hidupnya, menahan diri untuk tetap bekerja di kantor demi keluarga. Sedangkan karir April dalam teater merosot karena aktingnya yang buruk. Dihadapi oleh kenyataan seperti ini, April tidak mampu mengembalikan moodnya dalam menjalani hidup, padahal Ia harus tampil senantiasa kuat demi anak-anaknya.

Tiba-tiba April mendapat ide agar seluruh keluarga pindah ke Paris, negara yang selalu dicintai Frank. April berinisiatif untuk mencari pekerjaan sebagai sekretaris atase luar negeri di sana, yang dia yakini mendapat bayaran yang sangat besar. Sehingga cukup hanya dia yang bekerja untuk menghidupi keluarga, sementara Frank memiliki waktu tenang untuk mencari pekerjaan yang paling diinginkannya. Awalnya Frank berpikir ini ide gila, namun akhirnya Ia setuju. Dan sejak saat itu mereka berubah menjadi lebih optimis dan gembira, membayangkan nikmatnya hidup di kota yang penuh kehidupan seperti Paris. Namun ternyata rencana ini harus dibatalkan karena tiba-tiba April mengandung.

Disinilah inti konflik film ini mulai berjalan. Frank & April yang tadinya sudah terbuai dalam mimpi nikmatnya tinggal di Paris, harus kembali pada realita dimana mereka harus tetap tinggal di Revolutionary Road demi bayi yang akan lahir. Frank siap dengan nasib ini, namun tidak demikian dengan April…

Yang istimewa dari film ini adalah akting Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet. Mereka berdua mampu membuat karakter rekaan menjadi sangat real dan manusiawi. Saya seringkali merasa bahwa karakter mereka adalah nyata ketika menonton. Selain itu, mereka juga sangat lihai memainkan emosi dan perasaan penonton. Total Drama! Tidak heran mereka berdua dinominasikan sebagai aktor dan aktris terbaik dalam Golden Globe kemarin.

Bila ingin mencari hiburan, jangan menonton film ini karena film ini tidak menghibur namun memberikan pesan moral dan pelajaran dalam hidup, terutama kehidupan rumah tangga pasangan muda. Oleh karena itu saya yakin banyak orang akan merasa bosan ketika menonton Revolutionary Road. Sebaliknya, bila Anda lebih tertarik kepada akting daripada aksi, Anda wajib menonton film ini. I gave 4 stars for Leo & kate’s performances.

Atonement

In Fictions, Film on Januari 28, 2009 at 4:19 pm

atonementFilm drama romantis zaman perang pada umumnya diawali atau diakhiri oleh kisah tragis. Begitu juga dengan Atonement.

Cecilia (Keira Knightley dan Robbie (James Mc Avoy) adalah sepasang remaja yang saling mencintai. Walaupun hubungan mereka diwarnai oleh perbedaan status, namun bukan hal ini yang memisahkan mereka. Sebuah fitnah yang dilayangkan adik Cecilia (Brioni) pada Robbie membuatnya harus memilih antara penjara atau wamil. Kedua pilihan tersebut mau tidak mau membuat dirinya harus berpisah dengan Cecilia. Cecilia tidak diizinkan bertemu dengan Robbie, hingga akhirnya Cecilia nekat dan mereka berdua sempat bertemu di sebuah restoran. Namun pertemuan tersebut terpaksa dibuat singkat karena Robbie harus kembali berperang dan Cecilie belajar di akademi perawat.

Kisah ini diadaptasi dari sebuah novel karya Ian McEwan. Atonement berhasil masuk ke dalam banyak nominasi OSCAR tahun 2008, namun hanya memenangkan satu, yaitu kategori Best Original Scoring.

Keunggulan film ini adalah storyline yang rapih, mengalir, dan sangat menyentuh. Sangat nyaman mengikuti plot demi plot dalam film ini. Walaupun narasinya memvisualisasikan cerita dari sudut pandang yang berpindah-pindah (berbeda-beda), namun surprisingly ceritanya sangat mudah dimengerti.

Di dalam film ini, penonton diperlihatkan sudut pandang dari 2 titik, yaitu fakta (outside Brioni’s mind and thoughts) dan sudut pandang si kecil Brioni (inside her mind and thoughs). Sehingga seiring berjalannya cerita, kita dapat menyadari bahwa poros utama adalah kebohongan Brioni yang sudah menyeret hubungan kakaknya dalam perpisahan.

This movie is beautiful! Ceritanya sangat sedih namun tidak membuat saya cepat bosan. Naskahnya sukses membawa penonton terlibat dalam kisah Cecilia dan Robby. Ketika menonton Atonement, terasa reaksi yang serupa ketika saya menonton English patient; sedih, kagum dan deeply engaged.

Yang paling saya sukai dalam film ini adalah konflik-konfliknya yang terasa nyata. Ceritanya tidak berlebih-lebihan, namun dapat membuat penonton sangat terlibat dalam cerita. Selain itu, akting Kiera, James dan Brioni juga bagus.

Akankah di tahun 2009 ini menghasilkan film drama romantis zaman perang sebaik atau lebih dari Atonement? Semoga saja…

The Mist

In Film, Thriller on Januari 28, 2009 at 4:17 pm

the-mist“Sure, as long as the machines are working and you can dial 911. But you take those things away, you throw people in the dark, you scare the shit out of them – no more rules”

Diatas adalah dialog yang diucapkan oleh David Drayton, tokoh utama dari film berjudul The Mist, garapan sutradara Frank Darabont dan merupakan adaptasi dari novel karangan Stephen Kings yang memiliki judul yang sama.
Alasan saya menempatkan dialog tersebut pada awal tulisan karena itu merupakan esensi utama dari film ini, bisa dikatakan semacam ‘the core idea’. Film ini berkisar tentang ketidakberdayanya manusia ditengah ancaman teror dan ketakutan akan sesuatu hal yang tidak mereka mengerti. Bila saat itu terjadi, hanya satu hal yang mereka pikirkan: ‘Bagaimana menyelamatkan nyawa sendiri’. segala norma dan tata tertib tidak berlaku, hati tidak lagi menentukan sikap dan perasaan, dan nyawa manusia lain menjadi tidak ada harganya.
Memang sudah banyak film-film yang mengusung esensi seperti ini, yang bisa saya ingat sekarang adalah The Saw, namun masih banyak film horror-thriller lainnya yang serupa. Yang membuat The Mist berbeda adalah kemampuan si penulis naskah untuk menciptakan konflik-konflik manusiawi yang terasa sangat nyata, sehingga membuat penonton merasa bahwa mereka mungkin bertindak seperti yang diperankan oleh para tokoh di film apabila mereka terperangkap dalam situasi yang sama.
Bukan akting para pemainnya yang membuat saya terkesima, mereka cukup bagus membawakan peran mereka masing-masing, namun saya percaya itu disebabkan oleh plot cerdas yang diciptakan si penulis naskah. Yep, sebuah plot yang teratur dan sukses membangun ketegangan demi ketegangan dengan rapih hingga akhirnya mencapai klimaks yang mengagumkan.
Film ini membuat saya mengeluarkan sumpah serapah dan membuat saya benar-benar membenci tokoh-tokoh antagonis di dalamnya. Hal ini berarti The Mist mampu membawa saya terhanyut ke dalam cerita. Coba sempatkan menonton dan mungkin Anda akan mengerti apa yang saya maksud di post ini.

FEAR WILL CHANGE EVERYTHING AND EVERYONE

SICKO

In Docus, Film on Januari 28, 2009 at 4:16 pm

sicko1SICKO termasuk dalam film keluaran terbaru Michael Moore, sutradara film dokumenter yang terkenal dengan gaya-nya yang sarkastik dan sinis dalam mengolah argumen.

Inti argumentasi dari dokumenter SICKO adalah betapa kapitalisnya perusahaan-perusahaan asuransi di Amerika. Memang tidak dipungkiri perusahaan asuransi tetaplah sebuah institusi yang berupaya untuk menghasilkan profit, namun di SICKO, Moore berargumen tentang cara mereka yang sudah kelewat batas dan cenderung menipu mentah-mentah konsumen.

Moore mewawancarai beberapa warga Amerika yang merasa ditipu oleh perusahaan asuransi, bahkan ia berhasil mengajak para warga tersebut untuk ikut serta dalam unjuk rasa yang dipandu olehnya. Hal ini-lah yang turut menyumbangkan intrik dan drama dalam dokumenter ini.

Secara keseluruhan, dokumenter ini menarik untuk ditonton karena menyajikan fakta-fakta tentang dunia asuransi yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat awam. Memang selama ini kita tahu kalau perusahaan asuransi mempunyai imej jelek, namun dokumenter ini tetap mampu menggambarkan sekaligus menjelaskan isu tersebut dengan menarik.

Menurut gue pribadi, SICKO adalah karya Moore yang paling matang dibandingkan dengan dokumenter-nya terdahulu seperti bowling for columbine dan Fahrenheit 9/11. Kalau dulu Moore sering dikritik karena suka memanipulasi fakta dalam karyanya, kali ini strategi manipulasinya gue anggap lebih halus hingga mampu membuat orang sedikit demi sedkit menjadi percaya.

Well… terlepas dari benar atau tidaknya argumen dan fakta yang Moore berikan, pada intinya ada satu hal yang perlu kita ingat bila menonton dokumenter: bahwa dokumenter bukan merepresentasikan kenyataan, melainkan sudut pandang si pembuatnya. Penilaian akhir tetap mejadi hak penonton.

Z.O.D.I.A.C

In Film, Thriller on Januari 28, 2009 at 4:11 pm

zodiacgrande1webPernah nonton Seven, tentang serial killer yang memperlakukan korbannya seperti yang dialami para pendosa 7 deadly sins? Coba nonton ZODIAC karena keduanya dibuat oleh sutradara yang sama, yaitu David Fincher.

Banyak improvement di ZODIAC, terutama dalam hal camera angle, composition, story development dan mood development. Walaupun durasinya hampir 3 jam tapi gue tetep bisa dibuat penasaran sama plot-nya yang enggak mau menyerah ngasi teka-teki yang menarik dan bikin penasaran banget.

Selain itu ada beberapa camera angle dan composition yang menarik. Contohnya: long shot mobil jalan yang diambil dari top angle. Begitu mobilnya putar arah, shotnya (atau kameranya mungkin) juga ikut bergerak sesuai dengan arah mobil tersebut. Gue nggak tahu ini dilakuin di editing atau bukan, tapi kalau real dari kamera, two thumbs up untuk pergerakannya yang smooth banget.

Nah selain itu, ada adegan pembunuhan yang menurut gue salah satu tersadis dan terseram yang pernah gue lihat. Tapi berbeda dengan adegan sadis di film yang pada umumnya obral darah muncrat dimana-mana atau obral simbahan darah, adegan ini clean, apa adanya. Pikiran seram dan ngeri penonton dibangkitkan oleh teriakan si korban dan kegamblangan adegan pembunuhan tersebut. (clue: adegan pembunuhan di danau).

Nggak ada yang spesial di ending-nya. Tapi kesimpulan cerita dibiarkan terbuka dan bebas dinilai oleh penonton dengan fakta-fakta yang kuat.

This movie will make you really sick of the accused murderer, as a result of the effectiveness of the mood development.

Penasaran? Harus nonton ZODIAC. Katanya temen-temen gue film ini nggak sempet ditayangkan di bioskop, so minjem atau beli aja DVD-nya.

Oh ya, yang bikin ceritanya tambah keren karena diangkat dari real story. Enjoy!

Bilangan Fu (Ayu Utami)

In Books, Fiksi on Januari 28, 2009 at 4:08 pm

bilangan-fuLewat cerita pertemuan dua sahabat yaitu Yuda dan Parang Jati, Ayu Utami memaparkan paham kepercayaan yang kritis. Paham keagamaan yang tidak meminggirkan kebiasaan yang terlahir dari adat istiadat maupun takhayul.

Parang Jati adalah anak muda produksi peradaban modern yang cinta mendaki gunung. Pemikirannya kritis dalam arti modern dan memandang remeh hal-hal yang berbau takhayul. Sebaliknya, Parang Jati adalah anak desa yang dirawat oleh Suhubudi, guru kebatinan sekaligus pengusaha kaya raya.

Dipertemukan oleh taruhan, keduanya menjalani berbagai pengalaman spiritual maupun duniawi yang akhirnya mengeratkan hubungan mereka. Begitu memukaunya pribadi dan pemikiran Parang Jati membuat Yuda memahami cara berpikir si anak desa terdidik yang menghargai dengan imbang nilai-nilai modern dan tradisional.

Disamping konflik dan sedikit aksi, Bilangan Fu sarat dengan sejarah, terutama yang berhubungan dengan kebudayaan Jawa dan sejarah Kitab Babad Tanah Jawi.

Kita diajak untuk mengenali cara berpikir yang sangat berbeda namun juga terasa sangat logis. Beragamnya informasi, cerita, sejarah, dan analogi yang dipaparkan Ayu Utami menjadi bumbu menarik buku ini. Selain itu, teknik berceritanya walaupun tidak ringan, mampu mengikat pembaca untuk menyingkap makna dibalik rangkaian jalan ceritanya.

Kite Runner (Khaled Hosseini)

In Books, Fiksi on Januari 28, 2009 at 4:06 pm

kite-runnerSebelum membaca Kite Runner saya sudah dengar beberapa reviews yang memuji buku ini, baik dari media maupun dari mulut ke mulut. Sekarang saya mengerti kenapa buku ini begitu disenangi.

Tema cerita persahabatan yang diangkat memang bukan hal yang baru. Namun, konflik dan ironi yang ditambahkan oleh Hosseini membuat naratif keseluruhan menjadi sangat menarik, menyentuh, dan terasa nyata.

Adalah Amir dan Hassan, dua protagonis dalam buku ini, warga Afghanistan yang berasal dari etnis yang berbeda. Amir yang merupakan anak majikan, dan Hassan anak seorang pelayan rumah tangga. Berdua, mereka menemukan keriaan masa kecil bersama dikala Afghanistan masih negara yang damai.

Namun, dibalik persahabatan mereka tersimpan konflik dan kebenaran yang disembunyikan baik oleh mereka dan dari mereka berdua. Konflik dan kebenaran inilah yang kemudian mengiringi jalannya plot Kite Runner.

Jalan cerita buku ini mengalir dengan baik. Konflik demi konflik sangat jelas dipaparkan oleh Hosseini sehingga terkadang saya merasa buku ini seperti biografi. Selama membaca, saya mereka-reka yang mana yang merupakan referensi dari kehidupan pribadi si pengarang, yang juga berasal dari Afghanistan.

Buku ini membahas tentang persahabatan, keluarga, kasih sayang, tanah air, sedikit politik, perang dan dampaknya, penebusan dosa, serta kesetiaan yang dirangkum dalam kisah Amir dan Hassan.

This book is about to be good again, as mentioned by Rahim Khan:
“there’s a way to be good again”
(Khan adalah salah satu karakter berpengaruh dalam Kite Runner)