Lewat cerita pertemuan dua sahabat yaitu Yuda dan Parang Jati, Ayu Utami memaparkan paham kepercayaan yang kritis. Paham keagamaan yang tidak meminggirkan kebiasaan yang terlahir dari adat istiadat maupun takhayul.
Parang Jati adalah anak muda produksi peradaban modern yang cinta mendaki gunung. Pemikirannya kritis dalam arti modern dan memandang remeh hal-hal yang berbau takhayul. Sebaliknya, Parang Jati adalah anak desa yang dirawat oleh Suhubudi, guru kebatinan sekaligus pengusaha kaya raya.
Dipertemukan oleh taruhan, keduanya menjalani berbagai pengalaman spiritual maupun duniawi yang akhirnya mengeratkan hubungan mereka. Begitu memukaunya pribadi dan pemikiran Parang Jati membuat Yuda memahami cara berpikir si anak desa terdidik yang menghargai dengan imbang nilai-nilai modern dan tradisional.
Disamping konflik dan sedikit aksi, Bilangan Fu sarat dengan sejarah, terutama yang berhubungan dengan kebudayaan Jawa dan sejarah Kitab Babad Tanah Jawi.
Kita diajak untuk mengenali cara berpikir yang sangat berbeda namun juga terasa sangat logis. Beragamnya informasi, cerita, sejarah, dan analogi yang dipaparkan Ayu Utami menjadi bumbu menarik buku ini. Selain itu, teknik berceritanya walaupun tidak ringan, mampu mengikat pembaca untuk menyingkap makna dibalik rangkaian jalan ceritanya.
Sebelum membaca Kite Runner saya sudah dengar beberapa reviews yang memuji buku ini, baik dari media maupun dari mulut ke mulut. Sekarang saya mengerti kenapa buku ini begitu disenangi.
Akhirnya, selesai sudah seri Twilight saya baca. Tidak seperti tiga buku sebelumnya, kali ini saya butuh waktu agak lama untuk menyelesaikan Breaking Dawn karena bab-bab awalnya agak dragging. Tidak sepenuhnya membosankan, karena banyak poin dan informasi baru yang penting, namun cara menulis Stephenie Meyer kali ini tidak seluwes Eclipse dan Twilight.
Setelah New Moon, Eclipse menyambung semangat saya untuk menyelesaikan seri Twilight. Banyak paparan informasi mengenai karakter-karakternya dan juga banyak konflik yang terselesaikan dalam buku ini.
New Moon adalah buku lanjutan dari TWILIGHT yang sudah saya review beberapa hari yang lalu. Namun tidak seperti buku yang pertama, New Moon hanya saya beri rating dua bintang karena ceritanya yang terkesan bertele-tele.
Twilight merupakan seri pertama dari Twilight’s Saga by Stephenie Meyer (buku 2: New Moon, 3: Eclipse, dan yang terakhir Breaking Down. Inti dari seri buku ini adalah kisah cinta Bella dan Edward. Perjalanan yang mereka hadapi tidak mudah karena Edward adalah seorang vampir sedangkan Bella manusia yang seharusnya menjadi buruan Edward. Sinopsis ini mungkin klise tapi ada yang berbeda dengan buku ini.
Ini bukanlah novel melainkan merupakan catatan sejarah Pramoedya Ananta Toer tentang keberadaan dan keadaan wanita Jawa budak seks Jepang (jugun ianfu)di Pulau Buru.
Akhirnya karena diskon murah hati dari Periplus gue bisa beli novel ini. Pertama-tama tertarik karena cover dan judulnya. Karena dibalik bukunya nggak ditulis sinopsis maka gue beranggapan ceritanya akan berkisar tentang pemburuan penyihir di jaman pertengahan.
Ini buku sudah lama gue incer tapi akhirnya baru bisa kebeli 2 bulan yang lalu dan belum juga selesai sampai sekarang. Bukan karena membosankan, justru lagi mencari waktu yang sempurna untuk bisa bener-bener nikmatin ceritanya sambil berimajinasi tentang tokoh-tokoh dan plotnya.